Pages

Monday, October 22, 2012


Januari lalu kamu menulis ini untukku,paragraf panjang untuk pertama kalinya..

Gemuruh suara akuarium kian akrab di telinga ketika cahaya enggan menampilkan dirinya yang terang di malam hari. Suara jangkrik dan kicauan burung malam juga menjadi teman membuka mata lebar – lebar di malam seperti ini.

Ya hening memang, yang biasanya mereka dengar suara cekikian seorang pemuda kurus di kamarnya. Mengucapkan kata sayang dan selamat tidur di akhir perbincangan pemuda itu. Beberapa malam ini berbeda sungguh berbeda. Dia hanya menatap ke  monitor usang di kamarnya dengan pandangan kosong, bertukar pandang dengan benda mati. Tak seperti biasanya, seharusnya dia bertukar pandang dengan gadis yang sering dia telpon. Cekungan di matanya semakin dalam saja, dalam dan hitam ya ibu bilang kelopaknya menghitam.

Malam ini berbeda, senyumnya hanya senyum kecut mencoba menghibur diri, mungkin sesal, mungkin sedih atau mungkin tangis. Ah dia mulai berbohong kali ini mencoba menghibur diri, mencoba tersenyum melihat telepon genggam miliknya, suatu hal yang tidak pernah absen dia lakukan di malam sebelum dia terlelap di pulau kapuk. Dasar pembohong kelas teri selihai apapun mencoba berbohong  wajah dengan senyum kecut itu tetaplah tampak, tampak akan penyesalan atas semalam. Frekuensi tinggi itu seharusnya ia simpan rapat – rapat di pita suaranya, tak seharusnya keluar tanpa kontrol, mereka bilang mulut lebih tajam dari belati. Dia takut apa yang dia katakan semalam mengubah barisan huruf dirangkai menjadi kata itu melukai lawan bicaranya. Dia menyesal seharusnya semuanya bisa dibicarakan dengan nada halus tanpa dengan pembesaran otot di sekitar leher, tanpa muka memerah, tanpa emosi.. .

Mungkin memang butuh waktu untuk berbenah, seperti merapikan tempat tidur di pagi hari. Menyita waktu memang tapi perlu, perlu dilakukan sebelum melakukan rutinitas lainnya. Dan kali ini berbenah pola pikir dan tingkah laku bukanlah hal mudah, tidak semudah merapikan tempat tidur tentunya. Harus matang. Agar mengerti apa itu menghargai perasaan satu sama lain, ya “saling” dan “bersama” itu yang sulit. Saling mengerti, saling menghormati, saling memahami, bersama menahan ego, bersama memecahkan masalah. Banyak hal yang perlu pemuda itu pelajari, dan tak perlu malu untuk memulai kata “maaf”. Semua memerlukan waktu, demi seseorang yang dia sayang dan dicintai. Demi sang gadis..

Maaf untuk tadi malam


0 komentar:

Post a Comment